BP


 

GALERI BIMBINGAN DAN KONSELING SMP ISLAM RADEN PATAH

                                                                                                                                   
Visi dan Misi Bimbingan dan Konseling :
• Visi
Visi bimbingan dan konseling adalah “terwujudnya kehidupakemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pemberian dukungan perkembangan dan pengentasan masalah individu berkembang optimal, mandiri, dan bahagia”.
• Misi
Misi Bimbingan dan Konseling di sekolah adalah untuk menunjang pengembangan siswa dan memandirikan siswa agar dapat menyelenggarakan kehidupan sehari-hari secara efektif melalui penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Agar siswa memiliki kompetensi dalam: beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, pemahaman diri dan lingkungan, pengambilan keputusan, pengarahan diri, antisipasi dan pemenuhan tuntutan masa depan dan pengaktualisasikan diri secara optimal.
 
Sejarah Lahirnya Pola 17 Plus Bimbingan dan Konseling :

Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah diselenggarakan dengan pola yang tidak jelas, ketidak jelasan pola yang harus diterapkan berdampak pada buruknya citra bimbingan dan konseling, sehingga melahirkan miskonsepsi terhadap pelaksanaan BK, munculnya persepsi negatif terhadap pelaksanaan BK, berbagai kritikan muncul sebagai wujud kekecewaan atas kinerja Guru Pembimbing sehingga terjadi kesalahpahaman, persepsi negatif dan miskonsepsi berlarut. Masalah menggejala diantaranya: konselor sekolah dianggap polisi sekolah, BK dianggap semata-mata sebagai pemberian nasehat, BK dibatasi pada menangani masalah yang insidental, BK dibatasi untuk klien-klien tertentu saja, BK melayani ”orang sakit” dan atau ”kurang normal”, BK bekerja sendiri, konselor sekolah harus aktif sementara pihak lain pasif, adanya anggapan bahwa pekerjaan BK dapat dilakukan oleh siapa saja, pelayanan BK berpusat pada keluhan pertama saja, menganggap hasil pekerjaan BK harus segera dilihat, menyamaratakan cara pemecahan masalah bagi semua klien, memusatkan usaha BK pada penggunaan instrumentasi BK (tes, inventori, kuesioner dan lain-lain) dan BK dibatasi untuk menangani masalah-masalah yang ringan saja.

Pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah diselenggarakan dengan pola yang tidak jelas, ketidak jelasan pola yang harus diterapkan disebabkan diantaranya oleh hal-hal sebagai berikut :

1. Belum adanya hukum

Sejak Konferensi di Malang tahun 1960 sampai dengan munculnya Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Bandung dan IKIP Malang tahun 1964, fokus pemikiran adalah mendesain pendidikan untuk mencetak tenaga-tenaga BP di sekolah. Tahun 1975 Konvensi Nasional Bimbingan I di Malang berhasil menelurkan keputusan penting diantaranya terbentuknya Organisasi bimbingan dengan nama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). Melalui IPBI inilah kelak yang akan berjuang untuk memperolah Payung hukum pelaksanaan Bimbingan dann Penyuluhan di sekolah menjadi jelas arah kegiatannya.

2. Semangat luar biasa untuk melaksanakan

BP di sekolahLahirnya SK Menpan No. 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Merupakanangin segar pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolah. Semangat yang luar biasa untuk melaksanakan ini karena di sana dikatakan “Tugas guru adalahmengajar dan/atau membimbing.” Penafsiran pelaksanaan ini di sekolah dan didukung tenaga atau guru pembimbing yang berasal dari lulusan Jurusan Bimbingan danPenyuluhan atau Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan (sejak tahun 1984/1985) masih kurang, menjadikan pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan di sekolahtidak jelas. Lebih-lebih lagi dilaksanakan oleh guru-guru yang ditugasi sekolah berasal dari guru yang senior atau mau pensiun, guru yang kekurangan jam mata pelajaranuntuk memenuhi tuntutan angka kreditnya. Pengakuan legal dengan SK Menpan tersebut menjadi jauh arahnya terutama untuk pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan disekolah.

3. Belum ada aturan main yang jelas

Apa, mengapa, untuk apa, bagaimana, kepada siapa, oleh siapa, kapan dan di mana pelaksanaan Bimbingan dan Penyuluhan dilaksanakan juga belum jelas. Oleh siapabimbingan dan penyuluhan dilaksanakan, di sekolah banyak terjadi diberikan kepada guru-guru senior, guru-guru yang mau pensiun, guru mata pelajaran yang kurang jammengajarnya untuk memenuhi tuntutan angka kreditnya. Guru-guru ini jelas sebagian besar tidak menguasai dan memang tidak dipersiapkan untuk menjadi GuruPembimbing. Kesan yang tertangkap di masyarakat terutama orang tua murid Bimbingan Penyuluhan tugasnya menyelesaikan anak yang bermasalah. Sehingga ketikaorang tua dipanggil ke sekolah apalagi yang memanggil Guru Pembimbing, orang tua menjadi malu, dan dari rumah sudah berpikir ada apa dengan anaknya, bermasalahatau mempunyai masalah apakah. Dari segi pengawasan, juga belum jelas arah dan pelaksanaan pengawasannya. Selain itu dengan pola yang tidak jelas tersebutmengakibatkan:

  • Guru BP (sekarang Konselor Sekolah) belum mampu mengoptimalisasikan tugas dan fungsinya dalam memberikan pelayanan terhadap siswa yang menjadi tanggungjawabnya. Yang terjadi malah guru pembimbing ditugasi mengajarkan salah satu mata pelajaran seperti Bahasa Indonesia, Kesenian, dsb.nya.
  • Guru Pembimbing merangkap pustakawan, pengumpul dan pengolah nilai siswa dalam kelaskelas tertentu serta berfungsi sebagai guru piket dan guru pengganti bagi guru mata pelajaran yang berhalangan hadir.
  • Guru Pembimbing ditugasi sebagai “polisi sekolah” yang mengurusi dan menghakimi para siswa yang tidak mematuhi peraturan sekolah seperti terlambat masuk, tidak memakai pakaian seragam atau baju yang dikeluarkan dari celana atau rok.
  • Kepala Sekolah tidak mampu melakukan pengawasan, karena tidak memahami program pelayanan serta belum mampu memfasilitasi kegiatan layanan bimbingan di sekolahnya.
  • Terjadi persepsi dan pandangan yang keliru dari personil sekolah terhadap tugas dan fungsi guru pembimbing, sehingga tidak terjalin kerja sama sebagaimana yang diharapkan dalam organisasi bimbingan dan konseling.Kondisi-kondisi seperti di atas, nyaris terjadi pada setiap sekolah di Indonesia.

program layanan Bimbingan dan Konseling tidak dapat berjalan dengan efektif apabila tidak didukung dengan profesionalismenya guru BK tersebut dalam melayani siswanya dengan terprogram secara efektif apabila kurang atau tidak didukung faktor lain, misalnya faktor pengalaman bekerja.

Layanan konseling yang diberikan kepada peserta didik untuk belajar dengan efektif. Efektivitas konseling dapat tercapai bila seorang konselor atau guru pembimbing melaksanakan pola 17, antara lain:

  1. bidang bimbingan pribadi,
  2. bidang bimbingan sosial,
  3. bidang bimbingan belajar,
  4. bidang bimbingan karier.

Sedangkan tujuh layanan bimbingan dan konseling meliputi :

  1. layanan orientasi,
  2. layanan informasi,
  3. layanan penempatan dan pengukuran,
  4. layanan pembelajaran,
  5. layanan konseling perorangan,
  6. layanan bimbingan kelompok,
  7. konseling kelompok.

Dan lima kegiatan pendukung layanan bimbingan dan konseling, meliputi:

  1. aplikasi instrumentasi,
  2. himpunan data dan studi kasus,
  3. kunjungan rumah, dan
  4. alih tangan kasus.

Jika pola 17 plus Bimbingan dan Konseling dapat dilaksanakan maksimal, terprogram, dan berkualitas, dapat menunjang hasil belajar siswa. Pelaksanaan bimbingan konseling pola 17 tersebut dapat maksimal apabila dalam kurikulum diberikan alokasi waktu minimal 1 jam pelajaran sehingga empat bidang bimbingan, delapan layanan, dan lima kegiatan pendukung dapat diberikan pada seluruh siswa dan bukan pada siswa yang bermasalah saja.

BK Pola 17 Plus merupakan kerangka jaringan atau batang tubuh ilmu pengetahuan bimbingan dan konseling. Kerangka ini adalah pembaharuan dari Pola 17 yang dikemukakan pada awal tahun 2000 oleh Prof. Prayitno. Pola ini berkembang hampir di seluruh sekolah-sekolah di Indonesia.
Bidang Bimbingan dan Konseling :
  1. Bimbingan Pribadi
Suatu bidang bimbingan yang secara khusus ditujukan untuk membantu para siswa menemukan, memahami, dan mengembangkan diri pribadinyaseoptimalmungkin. Ini sangat erat hubungannya dengan fungsi pemahaman dan pengembangan.
Siswa sering tidak mengetahui bakat, minat, kemampuan, kelemahan dan kelebihan yang dimilikinya. Ini dapat diungkapkan melalui tes bakat, minat, dan teskemampuan dasar (tes IQ)
Pemilihan pengembangan diri siswa harus berdasarkan data potensi diri siswa. Salah memilih kegiatan akan membuat siswa tidak berkembang dan menimbulkanfrustasi.
  1. Bimbingan Sosial
Suatu proses kegiatan layanan bimbingan konseling yang bertujuan untuk pengembangan kecerdasan sosial siswa seoptimal mungkin agar mampu menyesuaikandiri dengan baik. Sosial dengan keluarga, teman sebaya, lingkungan sekolah, dan masyarakat di sekitarnya.
  1. Bimbingan Belajar
Suatu proses pemberian bantuan kepada siswa dalam upaya pembentukan sikap dan kebiasaan belajar yang baik. Baik di sekolah maupun di luar sekolah untukmelanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi.
  1. Bimbingan Karier
Suatu proses kegiatan layanan bimbingan dan konseling yang bertujuan untuk mengenalkan berbagai macam bidang pekerjaan dan jabatan – jabatan karier untukmengarakan cita – cita masa depan siswa.
Orientasi bimbingan karier di sekolah dasar baru pada tahap pengenalan awal untuk merangsang minat dan cita – cita pekerjaan siswa yang cocok dengan bakat,minat, dan kemampuan yang dimiliki.